Semua seniman berlomba mencipta karya
berlomba mencipta karya yang sama
karya yang sama tanpa estetika
estetika yang terlupa
Semua mahasiswa kini sibuk bersuara
bersuara atas nama rakyat yang konon tak bisa bersuara
tak bisa bersuara karena terbentur tembok kokoh pembatas
tembok kokoh pembatas yang disebut lembaga negara
lembaga negara yang seharusnya bersuara untuk mereka
untuk mereka yang tak bisa bersuara
Semua tokoh masyarakat kini sibuk berlomba
berlomba-lomba menjadi seorang pemimpin negara
negara yang keadaannya kian tua kian terpuruk
terpuruk karena ulah para pemimpin negara
pemimpin negara yang tak peduli akan nasib bangsa
Semua anak-anak kini bernyanyi lagu dewasa
lagu dewasa dengan lirik sampah tak bermakna
tak bermakna karena isinya cuma bualan-bualan cinta
bualan cinta yang dirangkai tanpa pemikiran
pemikiran bahwa lagu mereka hanya berbuah pembodohan
pembodohan bibit-bibit bangsa yang rusak karena propaganda
propaganda untuk menggapai ketenaran
ketenaran tanpa kualitas
Semua perempuan remaja berjalan menggenggam sebuah kotak
sebuah kotak dimana ada takaran nikotin dan tar tertulis di bagian sampingnya
tertulis di bagian sampingnya sebuah bungkus rokok
rokok yang kini semakin lazim dinikmati
dinikmati sambil berjalan atau sekadar duduk bertukar cerita
cerita tentang pengalaman malam sebelumnya
malam sebelumnya dimana mereka menenggak pil-pil berwarna
pil-pil berwarna yang ditenggak bersamaan dengan alkohol
alkohol yang kadarnya bisa membuat mereka anfal
anfal yang ternyata sudah biasa
sudah biasa karena semua sudah menjadi tren
tren yang seharusnya menampar wajah orangtua kita
orangtua kita yang was-was menunggu di rumah
seperti apa di masa depan nasib bangsa Indonesia
nasib bangsa yang dipegang oleh remaja apatis penikmat alkohol dan obat-obatan terlarang
remaja apatis yang lalu berubah menjadi mahasiswa
mahasiswa yang turun ke jalanan untuk bersuara
bersuara menentang pemimpin negara yang membohongi rakyat
pemimpin negara yang membohongi rakyat layaknya ia dulu membohongi orang tuanya
orang tua yang dulu memberikan lagu-lagu sampah pada anak balita
anak balita yang di kemudian hari bercita-cita jadi seniman
seniman yang akhirnya lupa akan estetikanya
lupa akan estetikanya lalu berputar haluan bermimpi jadi pemimpin negara
pemimpin negara yang tak peduli akan nasib rakyatnya
Kamis, 22 Januari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar