How do you break free without breaking apart?Semua orang membutuhkan satu tujuan dalam hidup, biasanya berupa impian atau mungkin kita lebih sering mengartikannya sebagai sebuah cita-cita, ambisi. Alasannya cukup sederhana, karena tanpa itu we will live for nothing. Seperti disisipkan dalam film Revolutionary Road ketika Frank, April dan John berjalan di hutan, hidup yang begitu-begitu saja digambarkan dengan kata “Hopeless” dan “Emptiness”.
Ketika menonton dan mengomentari plot cerita juga kemampuan berakting para aktor (dan aktris) dalam film tersebut, saya pun mengalami flash back akan beberapa kenangan masa lalu. Saya tau rasanya ketika Frank merasa frustasi akan sikap dan tingkah April lalu membanting kursi, sambil berteriak pada istri tercintanya, mengatakan bahwa ia tidak peduli akan bayi yang sedang dikandung. Ia bahkan secara tidak langsung mengatakan kalau ia sebenarnya tidak perduli walaupun sang istri menggugurkan si jabang bayi. Satu malam yang saya yakin disesali Frank di kemudian hari.
Hidup memang aneh, terkadang kita merasa bahwa kita tau apa yang kita mau dalam hidup ini. Bahwa tujuan hidup kita seakan sudah jelas tergambar, cetak biru-nya sudah dicetak. Ternyata kita lupa kalau kadang hidup punya kejutan di pertengahan jalan, terkadang apa yang kita impikan bukanlah sesuatu yang kita dapat. Saya termenung sejenak dan kehilangan konsentrasi, berapa banyak impian saya yang kandas belakangan ini? Rencana meraih cum laude gagal hanya karena masalah cinta. Rencana bekerja untuk perusahaan Internasional sementara mengumpulkan modal untuk buka usaha di Indonesia pun terhalang resesi ekonomi besar-besaran. Rencana memproduksi sebuah album pun gagal hanya karena sebuah masa puber kedua seorang gitaris. Ah..mungkinkah hidup saya akan seperti tokoh April dalam film itu?
Pernyataan-pernyataan negatif pun terlontar ketika April mengutarakan keinginannya, membangun sebuah mimpi. Menggambar kembali masa depannya dengan sebuah impian, sebuah tujuan, kalaupun mungkin pada akhirnya nanti mimpi itu tidak terwujudkan, setidaknya dia telah mencoba. Bukankah itu terjadi pada kita semua?
Berapa banyak orang tertawa mendengar kalian yang ingin menjadi CEO di sebuah perusahaan International dengan gaji US$ mengalir ke dalam rekening tabungan?
Berapa banyak orang yang melecehkan kalian yang memiliki mimpi menjadi seorang seniman ternama di negeri tercinta bahkan sampai merambah dunia international?
Berapa banyak orang yang mentertawakan saya ketika saya mengutarakan keinginan untuk sekolah di luar negeri lalu mencari cara untuk keliling dunia tetapi memiliki penghasilan tepat?
Berapa banyak orang yang mencaci maki para nerd di sekolah yang doyan ngotak-ngatik rumus sambil bermimpi bahwa mereka bisa menjadi the next Einstein?
Tapi yang paling penting, berapa banyak orang yang berani mengambil resiko itu untuk dapat hidup sesuai mimpinya?
Saya memiliki banyak keinginan yang terjabar di depan muka saya, walaupun kini saya sedang merangkak kesusahan tapi bukankah itu sebuah perjalanan? Begitu banyak hal yang harus dijalani, singkatnya untuk memenuhi kodrat saya sebagai seorang perempuan, saya harus segera lulus lalu bekerja sebentar lalu menikah, punya anak, lalu hidup saya selesai. Begitu kah?
Seperti juga tokoh April yang diperankan dengan sangat baik dalam film ini, hidup di sebuah sub-urban dan memiliki suami yang membenci pekerjaannya di New York.
Seorang teman mengajukan pertanyaan di tengah-tengah lajunya film, “Kalau elu punya kesempatan untuk memilih, apakah akan memilih hidup yang terjamin financially ataukah hidup untuk menjalani hidup yang kalian impikan?”
Seorang teman menjawab, “Security sih ya kalau gue,” saya menyimpulkan dia akan memilih hidup dengan financial yang terjamin walaupun itu bukan hidup yang ia impikan.
Saya menjawab, “Hidup seperti yang gue impikan kalau emang bisa memilih sih, what;s the point living a life you don't even want?”
Jawaban saya bukan tanpa alasan dan pemikiran tentu saja. Sejujurnya kawan, saya tau keuangan itu bukan hal yang tidak penting, saya sekarang pun merasakan hidup menumpang pada teman-teman (yang alhamdulillah -semoga- mereka ikhlas membantu saya) terkadang saya ingin lari dan nangis sejadi-jadinya, malu..saya malu saya bahkan tidak bisa menanggung hidup untuk diri saya sendiri. Ini bukan hidup yang saya mau. Kegiatan hanya diam dalam rumah dan tidak melakukan apapun, tidak memiliki kegiatan menarik sedikit pun. Tapi ini bagian dari perjalanan saya menuju hidup yang saya inginkan, ini jalan yang 4 tahun lalu saya ambil, kepahitan itu pun saya telan bulat-bulat, insya allah saya akan membalas kebaikan mereka yang sudah membantu saya sedemikian banyak.
Tapi apakah uang menjadi satu-satunya hal yang membuat kita semua bahagia?
Kemana larinya kehangatan bercanda tawa dan berbagi sendu dengan orang yang kita sayangi? Kemana larinya kenikmatan mencapai semua cita-cita? Kemana larinya impian-impian yang terus membuat kita bertahan hidup?
Tentu saja, saya mengerti lakon April yang diakhir cerita melakukan sesuatu yang dia pikir akan membantunya mencapai sesuatu yang ia inginkan. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, bukan pula sesuatu yang terpuji apa yang ia lakukan di akhir ceritanya. Tapi yang penting adalah ia melakukan sesuatu. Ia telah mencoba melakukan sesuatu. Berapa banyak orang yang takut untuk melakukan sesuatu karena ketakutan mencicipi kegagalan yang pada akhirnya membuat mereka hidup dengan penuh penyesalan? Entah kenapa, saya yakin April tidak memiliki sedikitpun sesal dalam dirinya. Beberapa dari kalian mungkin menganggap ia Psycho dan Insane, tetapi... apakah kalian sendiri cukup sadar, sehat dan “Sane” selama ini?
Kalau artian “sane” hanya dibuktikan dengan kemampuan orang untuk mencintai orang lain, seperti apa yang dikatakan oleh Frank di tengah perkelahiannya dengan April, apakah orang yang tidak mencintai orang lain dapat dibilang gila? Semudah itukah?
Toh pada akhirnya Frank dan April memilih jalan hidup masing-masing, menurut saya sih memang dari awalnya mereka berdua memiliki visi yang berbeda dalam hidup. Walaupun pada awal pertemuannya mereka sama, ternyata jauh di dalam hatinya masing-masing, tujuan itu tetaplah berbeda. April terus dan terus mencoba untuk hidup dengan impian menjadi seorang aktris lalu tersadar bahwa itu bukanlah sesuatu yang dapat ia raih. Tapi ia tidak berhenti berusaha mencari impian baru, karena itulah inti dari hidupnya.. untuk mencapai sebuah mimpi. Tanpa mimpi dan cita-cita baru, hidupnya akan kosong. Hidupnya tidak berarti. Sesuatu yang hebatnya dapat dimengerti oleh anak dari makelar rumah, seseorang bernama John dengan predikat doktor dalam bidang matematika yang divonis gila.
Hebat, film ini membuat saya tersadar lagi. Sutradara-nya tidak terfokus pada anak-anak mereka, tidak pada hal-hal yang memang bukan inti dari film ini. Perselingkuhan yang terjadi pun tidak dibahas terlalu dalam, karena memang bukan itu intinya. Pertemanan April dan Frank dengan tetangga-nya pun hanya dibahas sekilas, tampak seperti ingin memperlihatkan bahwa beberapa orang sangat putus asa untuk memiliki teman. Kenapa? Karena si tetangga ini tidak memiliki ambisi lain dan butuh sesuatu untuk mengisi waktu mereka. Apa yang bisa kalian lakukan sih tanpa sebuah ambisi dan cita-cita? Well, one answer for sure.. pathetic life you will have.
Sang suami yang menyerah pada keadaan. Sang istri yang mencari jalan keluar. Dapat menghasilkan sebuah cerita tragis dalam kehidupan, hanya untuk menunjukkan bahwa dibutuhkan keberanian dan kenekatan dalam mengambil keputusan. Dalam bertindak.
Padahal, andaikan sang istri tidak mengajukan ide untuk merubah kehidupan mereka secara drastis, sang suami tidak akan mengalami perubahan sedikitpun dalam karir-nya.
Itu saja sudah cukup membuktikan kalau sebuah ambisi baru dalam hidup dapat merubah hidup kita dalam sekejap mata.
Andaikan saya tidak memiliki impian baru yang sedang saya pegang saat ini... Bukan tidak mungkin saya sudah berubah depresi tapi mungkin saya sudah menghilang entah kemana. Saya bisa menjadi gila kalau tidak memiliki impian, cita-cita.
Saya bisa gila kalau saya harus hidup tidak seperti apa yang saya cita-citakan.
Dan sangat mungkin, saya akan mengambil keputusan yang sama dengan April.
Saya akan melakukan hal sekecil apapun, untuk mengubah hidup yang saya jalani.
Walaupun itu berarti mempertaruhkan nyawa saya di ujung tebing sekalipun.
ps. Judul Revolutionary Road diambil dari nama jalan tempat suami istri Wheeler tinggal di sub-urban Connecticut.