Jumat, 27 Maret 2009

do you really hate liars?

Cheaters are liars but liars are not necessarily cheaters.

(at least) That is what I believe.
-

Sometimes you have a good reason to lie - that is what we called a white lie

but you will never have a good reason to cheat - because whatever your reason, it will never be good enough..
-

I was just wondering..

you poor thing, you must have hate yourself a lot... since you said that you hate liars very very much

but you cheated. so you lied too.

and you don't have a good reason for that right?

Well.. at least, I do have a really good reason why'd I lie..

Kamis, 26 Maret 2009

Reez StreetWear

Reez StreetWear began as a love story between street wear, sneakers and denim. Those three elements then became an inspiration in fulfilling our desire to create and design our own brand.

REEZ concept is combining the street wear with art and sneakers culture. Amsterdam is our based project, with all the hype over here we proudly present the finest brand.


Clothing line - known as distro in Indonesia, is just another common ideas. What’s so different about this one then? Claiming that it produces limited t-shirt collection, based in Amsterdam and providing a virtual shops (order & payment online) could be their competitive advantage. Ya ya ya I know there are more than just one brand did those things I mentioned but so what.. T-shirt are cheaper than H&M (which is considered as one of the cheapest), have the quality, nice prints, and it is not a mass-production product (so don’t worry, you’ll not bump into someone who has the exactly same t-shirt as you when you wear it).

Simple idea, simple design.

What Reez StreetWear trying to do is creating a new mindset that limited edition street wear is not unreachable. You go to their website, send them an email or just ring them - do the payment by bank transfer or paypal, and the t-shirt is delivered to your door. There’s nothing bad about it!

So check Reez StreetWear now and spend your €20 in order to have one of the limited print. ;)

Happy shopping!

xxx

Selasa, 10 Maret 2009

Leave a Message..

Blog walking and found this interesting article.

Netherlands is now trying to change the opinion of God in the country. But the way they're doing it is not usual - if you do not want to say smart and weird at the same time. Some people said it's actually just silly, but really guys..

here.. in the land of Weed and Red Light District you can now call God and leave him a message. (well, he is busy after all, you can imagine.. lately this world is a mess, He has a lot of work to do.. hihi).

to read the full article, click here, Dutch leave message on God's phone

Rabu, 18 Februari 2009

Sore ini..

Sore itu langit gelap, terlalu banyak amarah di sekitarnya. Aku memandang dari jembatan kayu tempat kita dulu sering berjumpa. Pedih tergores, aku mulai kembali melangkah.

Sore itu langit hitam, tanpa banyak penjelasan. Ranting-ranting yang biasanya masih tersinari warna jingga tak lagi ada, menyisakan satu pertemuan sepi antara aku dengannya.

Sore itu muncul bulan sabit, bukan lagi bulan purnama. Saatku untuk ada di sisimu sudah berlalu, sungai pun sudah tak lagi beku. Mungkinkah ini saatnya aku meninggalkan semua?

Sore itu... kelabu. Dingin. Hitam. Gelap. Aku pun mulai melangkah berlalu dengan semua beban yang kubawa.

.

Sore ini langit lebih hijau dan biru dan berwarna-warni. Sedikit jingga dipoleskan begitu cantik. Begitu menggoda. Bibirku mengulas senyum. Sedikit lelah, aku pun beristirahat di atas jembatan kayu itu. Melepaskan semua beban yang masih saja menggantung di lengan. Ranting berwarna memberi harap, air mengalir, rumput menghijau.

Sore ini semua tampak lebih indah. Angin semilir. Bunga yang mekar. Langit yang.. ah.. tidak lagi dapat dijelaskan..

.

Sore ini aku kembali berjalan lagi, dengan seulas senyum meski beban menggelayuti.

Sabtu, 24 Januari 2009

a Revolutionary Road

How do you break free without breaking apart?
Semua orang membutuhkan satu tujuan dalam hidup, biasanya berupa impian atau mungkin kita lebih sering mengartikannya sebagai sebuah cita-cita, ambisi. Alasannya cukup sederhana, karena tanpa itu we will live for nothing. Seperti disisipkan dalam film Revolutionary Road ketika Frank, April dan John berjalan di hutan, hidup yang begitu-begitu saja digambarkan dengan kata “Hopeless” dan “Emptiness”.


Ketika menonton dan mengomentari plot cerita juga kemampuan berakting para aktor (dan aktris) dalam film tersebut, saya pun mengalami flash back akan beberapa kenangan masa lalu. Saya tau rasanya ketika Frank merasa frustasi akan sikap dan tingkah April lalu membanting kursi, sambil berteriak pada istri tercintanya, mengatakan bahwa ia tidak peduli akan bayi yang sedang dikandung. Ia bahkan secara tidak langsung mengatakan kalau ia sebenarnya tidak perduli walaupun sang istri menggugurkan si jabang bayi. Satu malam yang saya yakin disesali Frank di kemudian hari.


Hidup memang aneh, terkadang kita merasa bahwa kita tau apa yang kita mau dalam hidup ini. Bahwa tujuan hidup kita seakan sudah jelas tergambar, cetak biru-nya sudah dicetak. Ternyata kita lupa kalau kadang hidup punya kejutan di pertengahan jalan, terkadang apa yang kita impikan bukanlah sesuatu yang kita dapat. Saya termenung sejenak dan kehilangan konsentrasi, berapa banyak impian saya yang kandas belakangan ini? Rencana meraih cum laude gagal hanya karena masalah cinta. Rencana bekerja untuk perusahaan Internasional sementara mengumpulkan modal untuk buka usaha di Indonesia pun terhalang resesi ekonomi besar-besaran. Rencana memproduksi sebuah album pun gagal hanya karena sebuah masa puber kedua seorang gitaris. Ah..mungkinkah hidup saya akan seperti tokoh April dalam film itu?


Pernyataan-pernyataan negatif pun terlontar ketika April mengutarakan keinginannya, membangun sebuah mimpi. Menggambar kembali masa depannya dengan sebuah impian, sebuah tujuan, kalaupun mungkin pada akhirnya nanti mimpi itu tidak terwujudkan, setidaknya dia telah mencoba. Bukankah itu terjadi pada kita semua?


Berapa banyak orang tertawa mendengar kalian yang ingin menjadi CEO di sebuah perusahaan International dengan gaji US$ mengalir ke dalam rekening tabungan?

Berapa banyak orang yang melecehkan kalian yang memiliki mimpi menjadi seorang seniman ternama di negeri tercinta bahkan sampai merambah dunia international?

Berapa banyak orang yang mentertawakan saya ketika saya mengutarakan keinginan untuk sekolah di luar negeri lalu mencari cara untuk keliling dunia tetapi memiliki penghasilan tepat?

Berapa banyak orang yang mencaci maki para nerd di sekolah yang doyan ngotak-ngatik rumus sambil bermimpi bahwa mereka bisa menjadi the next Einstein?


Tapi yang paling penting, berapa banyak orang yang berani mengambil resiko itu untuk dapat hidup sesuai mimpinya?


Saya memiliki banyak keinginan yang terjabar di depan muka saya, walaupun kini saya sedang merangkak kesusahan tapi bukankah itu sebuah perjalanan? Begitu banyak hal yang harus dijalani, singkatnya untuk memenuhi kodrat saya sebagai seorang perempuan, saya harus segera lulus lalu bekerja sebentar lalu menikah, punya anak, lalu hidup saya selesai. Begitu kah?

Seperti juga tokoh April yang diperankan dengan sangat baik dalam film ini, hidup di sebuah sub-urban dan memiliki suami yang membenci pekerjaannya di New York.


Seorang teman mengajukan pertanyaan di tengah-tengah lajunya film, “Kalau elu punya kesempatan untuk memilih, apakah akan memilih hidup yang terjamin financially ataukah hidup untuk menjalani hidup yang kalian impikan?”


Seorang teman menjawab, “Security sih ya kalau gue,” saya menyimpulkan dia akan memilih hidup dengan financial yang terjamin walaupun itu bukan hidup yang ia impikan.


Saya menjawab, “Hidup seperti yang gue impikan kalau emang bisa memilih sih, what;s the point living a life you don't even want?”

Jawaban saya bukan tanpa alasan dan pemikiran tentu saja. Sejujurnya kawan, saya tau keuangan itu bukan hal yang tidak penting, saya sekarang pun merasakan hidup menumpang pada teman-teman (yang alhamdulillah -semoga- mereka ikhlas membantu saya) terkadang saya ingin lari dan nangis sejadi-jadinya, malu..saya malu saya bahkan tidak bisa menanggung hidup untuk diri saya sendiri. Ini bukan hidup yang saya mau. Kegiatan hanya diam dalam rumah dan tidak melakukan apapun, tidak memiliki kegiatan menarik sedikit pun. Tapi ini bagian dari perjalanan saya menuju hidup yang saya inginkan, ini jalan yang 4 tahun lalu saya ambil, kepahitan itu pun saya telan bulat-bulat, insya allah saya akan membalas kebaikan mereka yang sudah membantu saya sedemikian banyak.


Tapi apakah uang menjadi satu-satunya hal yang membuat kita semua bahagia?


Kemana larinya kehangatan bercanda tawa dan berbagi sendu dengan orang yang kita sayangi? Kemana larinya kenikmatan mencapai semua cita-cita? Kemana larinya impian-impian yang terus membuat kita bertahan hidup?


Tentu saja, saya mengerti lakon April yang diakhir cerita melakukan sesuatu yang dia pikir akan membantunya mencapai sesuatu yang ia inginkan. Bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, bukan pula sesuatu yang terpuji apa yang ia lakukan di akhir ceritanya. Tapi yang penting adalah ia melakukan sesuatu. Ia telah mencoba melakukan sesuatu. Berapa banyak orang yang takut untuk melakukan sesuatu karena ketakutan mencicipi kegagalan yang pada akhirnya membuat mereka hidup dengan penuh penyesalan? Entah kenapa, saya yakin April tidak memiliki sedikitpun sesal dalam dirinya. Beberapa dari kalian mungkin menganggap ia Psycho dan Insane, tetapi... apakah kalian sendiri cukup sadar, sehat dan “Sane” selama ini?


Kalau artian “sane” hanya dibuktikan dengan kemampuan orang untuk mencintai orang lain, seperti apa yang dikatakan oleh Frank di tengah perkelahiannya dengan April, apakah orang yang tidak mencintai orang lain dapat dibilang gila? Semudah itukah?


Toh pada akhirnya Frank dan April memilih jalan hidup masing-masing, menurut saya sih memang dari awalnya mereka berdua memiliki visi yang berbeda dalam hidup. Walaupun pada awal pertemuannya mereka sama, ternyata jauh di dalam hatinya masing-masing, tujuan itu tetaplah berbeda. April terus dan terus mencoba untuk hidup dengan impian menjadi seorang aktris lalu tersadar bahwa itu bukanlah sesuatu yang dapat ia raih. Tapi ia tidak berhenti berusaha mencari impian baru, karena itulah inti dari hidupnya.. untuk mencapai sebuah mimpi. Tanpa mimpi dan cita-cita baru, hidupnya akan kosong. Hidupnya tidak berarti. Sesuatu yang hebatnya dapat dimengerti oleh anak dari makelar rumah, seseorang bernama John dengan predikat doktor dalam bidang matematika yang divonis gila.


Hebat, film ini membuat saya tersadar lagi. Sutradara-nya tidak terfokus pada anak-anak mereka, tidak pada hal-hal yang memang bukan inti dari film ini. Perselingkuhan yang terjadi pun tidak dibahas terlalu dalam, karena memang bukan itu intinya. Pertemanan April dan Frank dengan tetangga-nya pun hanya dibahas sekilas, tampak seperti ingin memperlihatkan bahwa beberapa orang sangat putus asa untuk memiliki teman. Kenapa? Karena si tetangga ini tidak memiliki ambisi lain dan butuh sesuatu untuk mengisi waktu mereka. Apa yang bisa kalian lakukan sih tanpa sebuah ambisi dan cita-cita? Well, one answer for sure.. pathetic life you will have.


Sang suami yang menyerah pada keadaan. Sang istri yang mencari jalan keluar. Dapat menghasilkan sebuah cerita tragis dalam kehidupan, hanya untuk menunjukkan bahwa dibutuhkan keberanian dan kenekatan dalam mengambil keputusan. Dalam bertindak.


Padahal, andaikan sang istri tidak mengajukan ide untuk merubah kehidupan mereka secara drastis, sang suami tidak akan mengalami perubahan sedikitpun dalam karir-nya.


Itu saja sudah cukup membuktikan kalau sebuah ambisi baru dalam hidup dapat merubah hidup kita dalam sekejap mata.

Andaikan saya tidak memiliki impian baru yang sedang saya pegang saat ini... Bukan tidak mungkin saya sudah berubah depresi tapi mungkin saya sudah menghilang entah kemana. Saya bisa menjadi gila kalau tidak memiliki impian, cita-cita.

Saya bisa gila kalau saya harus hidup tidak seperti apa yang saya cita-citakan.


Dan sangat mungkin, saya akan mengambil keputusan yang sama dengan April.

Saya akan melakukan hal sekecil apapun, untuk mengubah hidup yang saya jalani.


Walaupun itu berarti mempertaruhkan nyawa saya di ujung tebing sekalipun.




ps. Judul Revolutionary Road diambil dari nama jalan tempat suami istri Wheeler tinggal di sub-urban Connecticut.

Kamis, 22 Januari 2009

prosa berputar

Semua seniman berlomba mencipta karya
berlomba mencipta karya yang sama
karya yang sama tanpa estetika
estetika yang terlupa

Semua mahasiswa kini sibuk bersuara
bersuara atas nama rakyat yang konon tak bisa bersuara
tak bisa bersuara karena terbentur tembok kokoh pembatas
tembok kokoh pembatas yang disebut lembaga negara
lembaga negara yang seharusnya bersuara untuk mereka
untuk mereka yang tak bisa bersuara

Semua tokoh masyarakat kini sibuk berlomba
berlomba-lomba menjadi seorang pemimpin negara
negara yang keadaannya kian tua kian terpuruk
terpuruk karena ulah para pemimpin negara
pemimpin negara yang tak peduli akan nasib bangsa

Semua anak-anak kini bernyanyi lagu dewasa
lagu dewasa dengan lirik sampah tak bermakna
tak bermakna karena isinya cuma bualan-bualan cinta
bualan cinta yang dirangkai tanpa pemikiran
pemikiran bahwa lagu mereka hanya berbuah pembodohan
pembodohan bibit-bibit bangsa yang rusak karena propaganda
propaganda untuk menggapai ketenaran
ketenaran tanpa kualitas

Semua perempuan remaja berjalan menggenggam sebuah kotak
sebuah kotak dimana ada takaran nikotin dan tar tertulis di bagian sampingnya
tertulis di bagian sampingnya sebuah bungkus rokok
rokok yang kini semakin lazim dinikmati
dinikmati sambil berjalan atau sekadar duduk bertukar cerita
cerita tentang pengalaman malam sebelumnya
malam sebelumnya dimana mereka menenggak pil-pil berwarna
pil-pil berwarna yang ditenggak bersamaan dengan alkohol
alkohol yang kadarnya bisa membuat mereka anfal
anfal yang ternyata sudah biasa
sudah biasa karena semua sudah menjadi tren
tren yang seharusnya menampar wajah orangtua kita
orangtua kita yang was-was menunggu di rumah

seperti apa di masa depan nasib bangsa Indonesia
nasib bangsa yang dipegang oleh remaja apatis penikmat alkohol dan obat-obatan terlarang
remaja apatis yang lalu berubah menjadi mahasiswa
mahasiswa yang turun ke jalanan untuk bersuara
bersuara menentang pemimpin negara yang membohongi rakyat
pemimpin negara yang membohongi rakyat layaknya ia dulu membohongi orang tuanya
orang tua yang dulu memberikan lagu-lagu sampah pada anak balita
anak balita yang di kemudian hari bercita-cita jadi seniman
seniman yang akhirnya lupa akan estetikanya
lupa akan estetikanya lalu berputar haluan bermimpi jadi pemimpin negara
pemimpin negara yang tak peduli akan nasib rakyatnya

Rabu, 21 Januari 2009

another film festival

Wah, kali ini saya kurang sigap.. mungkin gara-gara belakangan dompet kosong mulu jadi kurang semangat nyari acara-acara menarik selain konser...

Tadi ga sengaja browsing taunya nemuin International Film Festival Rotterdam 2009

Saya nemuin kurang lebih 20 film yang menarik untuk ditonton, beberapa diantaranya film Indonesia. Saya sendiri belum pernah berpartisipasi di acara ini (seinget saya beberapa student di Den Haag dan Rotterdam kebanyakan pernah jadi volunteer di acara ini) jadi agak kebingungan dengan sistem tiket yang dipake.. (ada yang bisa jelasin kah??)

Kalau enggak malas, nanti saya buat review sekalian dari film-film yang ada saya tonton (kalau jadi nonton itu jg ya!).
Beberapa film Indonesia yang berhasil menarik saya adalah:
1. Heaven for Insanity - film karya Dria S. seorang teman dari senior saya, setelah baca blog nya (kang) Dudung, saya jadi penasaran.. dasar rezeki, filmnya nyamperin ke Belanda.
2. Forbidden Door - alesan saya cuma satu dan sangat kuat, ada Fachry Albar yang jadi pemeran pria utama. Itu aja cukup.
3. 9808 - Penasaran aja, saya liat reviewnya di salah satu site tentang dunia perfilman Indonesia dan cukup menarik perhatian
4. The Anniversary Gift - screenshot-nya bikin penasaran
5. Kantata Takwa - masih juga belum nonton film ini sampai sekarang.. saya penasaran berhubung ini film dahsyat jg waktu itu efek sampingnya (dari jendela politik ya)
6. Under the Tree - anything related to Bali and its magical thingy is interesting. Bagus atau tidaknya mari kita putuskan setelah menonton.

Btw, tadi saya sempet baca review tentang film dian sastro (yang barengan nico + riri riza) draspadi atau apalah itu judulnya.. katanya sampah alias mengecewakan... terutama yang nanganin film ini tuh riri dan mira lesmana.. ada yang udah liat dan bisa kasih review? saya penasaran banget, jadi kalau ada yg tau dimana saya bisa nonton tolong dikasih tau ya.. hehe. terima kasihhh..